Sekolah 8 Jam Terlalu Lama Bagi Anak-Anak

Kementrian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud)  akan menerapkan sistem delapan jam belajar di lima harus sekolah untuk tahun ajaran 2017/2018. Keputusan ini memberikan banyak komentar negatif dan positif dari para netizen. Delapan jam belajar itu bukan hanya pelajaran akademis tetapi juga kegiatan lain yang dilakukan di sekolah. Hal ini dilakukan untuk program penguatan pendidikan karakter (PPK) bagi para peserta didik. Akan diterapkan pada tingkat dasar dan sekolah tingkat menengah.

Menteri PPPA Tentang Sistem 8 Jam Belajar

Keputusan yang dikeluarkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan ini ternyata mendapat tentangan dari menteri pemberdayaan peremouan dan perlindungan anak (PPPA). Yohana Yembise mengatakan kalau jam sekolah sampai 8 jam terlalu lama untuk anak-anak. sebaiknya jam sekolah untuk anak tidak boleh terlalu lama. Hal ini akan membuat waktu bermain dan berkumpul anak-anak menjadi berkurang. Menurut yohana yenbise berkumpul dan bermain menjadi kegiatan yang baik untuk pembentukan karakter anak.

Menurut kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, sebaiknya jam belajar anak tidak lebih dari lima jam. Terlalu banyak jam belajar, termasuk melanggar hak asasi anak untuk bermain. Kementrian pendidikan dan kebudayaan ingin menerapkan jam sekolah 8 jam karena ingin siswa lebih terdidik. Tidak bermain dewa poker di tempat yang kurang jelas dan bisa menyebabkan kenakalan anak. penerapan ini harus bersamaaan dengan infrastruktur sekolah yang semakin bagus dan memadai.

Indonesia sangat luas. Jika keputusan 8 jam belajar di terapkan di seluruh sekolah tidak akan efektif. Di beberapa daerah terpencil, masih banyak siswa yang harus berjalan sampai berkilo-kilo untuk bersekolah. Kalau seumpmana mereka pulang sekolah sore, pastinya akan sampai rumah malam. Jika ingin menerapkan hal ini, harus dicoba dibeberapa daerah terlebih dahulu. supaya lebih efektif dan program penguatan pendidikan karakter (PPK) juga berjalan dengan baik.

Ketua PBNU Pun Menolak Jam Sekolah 8 Jam

Menurut ketua umum pengurus besar Nahlatul Ulama (PBNU) said aqil siradj, kebijakan 8 jama belajar bertengantangan dengan pasal 51 UU sisdiknas. Dalam UU tersebut dijelaskan sistem manajemen harus berbasis sekolah. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu harus sesuai dengan kesiapan dari sekolah tersebut. setiap sekolah memiliki infrastruktur yang berbeda dan tidak bisa disamakan.

Tak hanya bertentangan dengan pasal 51 UU sisdiknas, tetapi juga pasalk 35 tentang guru dan dosen. Guru hanya memiliki 24 jam tetap muka dan 40 jam dalam seminggu. Jika jam belaajr ditambah, maka jam kerja guru juga akan bertambah. Melihat permasalahan ini, ketua PBNU akan mengirimkan surat ke presiden mengenai hal tersebut,  Hal ini begitu meresahkan masyarakat. Tak hanya bagi orang tua murid tetapi juga bagi guru.

Kebijakan Full day school ini bisa membuat anak-anak tidak bisa bermain dan menghabiskan seluruh waktunya di sekolah. Apalagi jika diterapkan di seluruh pelosok indonesia. Jika di terapkan di kota besar seperti jakarta,mungkin masih bisa jadi pertimbangan. Tapi jika di terapkan di daerah lain, masih kurang tepat. Karena infrastruktur dan banyaknya pengajar masih belum teroenuhi. Jika ingin menerapkan program penguatan pendidikan karakter (PPK), kemendikbud bisa mencoba cara lain yang  lebih tepat diterapkan pada seluruh sekolah di indonesia. Sehingga penyampaiannya lebih efektif dan tidak melanggar hak anak-anak untuk bermain serta berkumoul bersama keluarganya. Anak-anak tidak akan terlalu pusing memikirkan masalah sekolah.